Hidup itu tidak semudah yang dibayangkan. Terkadang kita harus berjuang keras mendapatkan apa yang kita inginkan. Tak jarang perjuangan yang dilakukan tidaklah membuahkan hasil seperti apa yang diinginkan. Seperti saat ini, aku berjuang membantu ibuku dalam menghidupi keluarga dengan mengumpulkan uang dari hasil penjualan barang-barang bekas yang kudapat dari tetanggaku. Namun, pekerjaanku ini tidak semata-mata seperti pemulung yang menyusuri jalanan bahkan tempat sampah hanya untuk mendapatkan satu atau dua buah kaleng bekas. Aku hanya memberikan nomor teleponku kepada tetangga dan orang yang aku kenal sekiranya mereka memerlukan bantuan untuk menjualkan barang bekas mereka kepada pengumpul. Jadi, aku tak perlu susah payah berkeliaran di kota untuk mencari barang bekas yang bisa kujual.
            Hari itu, aku mendapat cukup banyak barang bekas dari tetanggaku yang hendak pindah rumah. Barang bekas yang akan mereka buang cukup banyak, sehingga membuatku meminjam pick up milik temanku untuk mengangkut barang-barang tersebut.
            “Baiklah, pak. Apakah ada yang bisa saya bawa lagi?” tanyaku pada pemilik rumah itu.
            “Ehm… apa ya? Sepertinya sudah cukup. Nanti jika perlu bantuanmu, saya hubungi lagi,” ujar bapak itu sembari mengeluarkan beberapa lembar lima puluh ribuan. Aku tersenyum melihatnya. Tapi dugaanku keliru, ternyata uang itu diberikan kepada pengangkut yang mengangkutkan barang-barang ke rumah yang baru. Aku menghembuskan nafas panjang. Tapi, ya sudahlah… bukan rejekiku.
            “Oh ya, pak. Untuk hasil penjualan barang-barang bekas ini, apakah perlu saya antarkan ke rumah bapak yang baru atau di rumah ini saja?” tanyaku kemudian.
            “Oh, tidak perlu. Kamu ambil saja semua. Buat uang saku sekolah kamu.” Mataku berbinar-binar mendengar jawaban itu. Alhamdulillah… hasil penjualannya tentu banyak sekali. Bahkan bisa untuk hidup 6 bulan. Maklum biaya hidup keluargaku tiap bulan tergolong cukup minim. Aku pun pamit pada pemilik rumah, tak lupa aku mengucapkan banyak terima kasih pada beliau.
            “Hoy, Mat! Ayo berangkat! Keburu sore nih,” sahut temanku ketika melihatku keluar.
            “Iya… iya sabar dulu kenapa sih. Hehe… thanks ya, Dit,” ujarku sambil cengar cengir kesenangan.
            “Ngapain cengengesan? Gak tau apa disini panas. Kamu sih enak Mat, di dalem ada AC. Ya udah, yuk buruan!”
            Yah, beginilah hidupku. Namaku Rahmat, aku memasuki tingkat 3 di bangku Sekolah Menengah Atas di salah satu sekolah favorit di Jakarta. Ayahku seorang perantauan yang entah bagaimana kabarnya sekarang. Sementara ibuku hanya seorang penjual gorengan, yang kondisinya semakin memburuk dari hari ke hari. Aku juga punya seorang adik yang masih berumur 4 tahun. Aku hidup di balik perumahan orang kaya. Ada sekitar 5 rumah yang masih bertahan di samping pembangunan perumahan tersebut. Dua diantaranya adalah penduduk asli daerah ini, dan bermatapencaharian sebagai petani. Sedangkan yang lain hanya seorang pedagang keliling seperti ibuku. Di samping tempat kami tinggal terdapat jalan tol. Tapi tak ada satu jalan pun yang menghubungkan tempat kami menuju jalan tol tersebut. Tentu saja…
            Malam itu, aku bisa bernafas lega melihat penghasilanku hari ini. Dengan uang ini, aku bisa membawa ibuku ke dokter untuk memeriksakan kesehatan secepatnya. Aku menyisihkan sebagian uang ini dalam kotak kaleng kecil buatanku sendiri. Sebagian lagi akan aku gunakan untuk hidup sehari-hari.
            “Rahmat…” panggil ibuku perlahan.
            “Iya bu,” jawabku sambil cepat-cepat menyimpan kembali kotak tabunganku.
            Disertai suara batuk yang semakin berat, ibu menghampiriku. Tubuhnya semakin hari semakin kurus, rautan di wajahnya semakin nampak, begitu pula uban yang semakin bertambah di usianya yang semakin tua. Aku menghampiri ibuku yang berdiri di depan pintu kamarku.
            “Kamu darimana saja? Pulang selalu sampai larut malam. Lihat bajumu, kotor semua,” tanya ibuku khawatir sambil membersihkan kotoran di lengan bajuku.
            “Ahh… hari ini aku menemani temanku belajar bersama. Mereka memintaku mengajari beberapa pelajaran yang aku kuasai,” jawabku bohong. Ibuku terlihat lega mendengar jawabanku. Kemudian beliau duduk di kursi ruang tamu sambil menyalakan televisi. Aku memang sengaja berbohong, agar ibu tidak terlalu khawatir akan pekerjaan yang aku lakukan.
            “Rahmat, tahun depan kamu akan lulus sekolah. Maafkan ibu, tidak bisa membiayaimu sampai kuliah. Sebentar lagi adikmu pun juga harus sekolah. Ibu tidak tahu lagi harus mencari penghasilan hidup darimana. Ibu harap setelah lulus nanti, kamu bisa membantu ibu. Yah… ibu hanya bisa mendoakan agar kamu sukses kelak.”
            Aku melihat adikku yang telah tertidur pulas disamping mainannya. Kugendong dia ke kamar. Aku kasihan melihat adikku hanya mengenakan pakaian bekas milikku dulu. Ingin rasanya aku membelikannya satu atau dua buah baju baru. Mungkin aku bisa membelikannya besok, agar adikku senang. Kemudian kuhampiri ibu dengan segelas air teh.  “Ibu, tidak usah khawatir. Ketika aku lulus, ibu istirahat saja. Semua biaya hidup biar aku yang tanggung. Doakan saja anakmu ini, bu.”

            Esok harinya, aku telah siap dengan tas sekolah yang sudah berkali-kali aku jahit dan sepertinya akan sobek lagi. Mungkin sudah saatnya aku ganti. Aku menyiapkan sarapan pagi untuk adikku. Pagi itu, ibuku tak kunjung bangun. Kulihat beliau juga belum menyiapkan dagangannya. Apa ibu mau libur hari ini? Kemudian aku berniat membangunkannya untuk pamit berangkat ke sekolah. Terlihat temanku Adit juga sudah menjemputku di depan rumah.
            Aku mengelus pundak ibuku sampai aku menggoyang-goyangkan tubuhnya, tapi ibuku tak kunjung bangun. Aku kebingungan. Wajah ibu terlihat pucat dan tubuhnya lemas terkulai. Aku memanggil Adit untuk meminta bantuan. Segera saja Adit menelpon dokter umum yang sudah lama dia kenal untuk segera kerumahku. Sementara dia tetap berangkat ke sekolah “Aku ke sekolah dulu deh, sekalian ijinin kamu ke guru karena ibumu sakit. Mending kamu tunggu disini aja.”
            “Makasih ya, Dit,” ucapku sambil mengantarkan kepergiannya. Aku kembali masuk ke rumah melihat kondisi ibuku. Keadaan semakin kacau, ketika adikku tiba-tiba menangis melihat ibuku tak kunjung bangun. Untung saja dokter segera tiba, dokter tersebut langsung memeriksa kondisi ibuku.
            “Hmm.. tampaknya harus segera dibawa ke Rumah Sakit terdekat. Kondisinya cukup mengkhawatirkan.” kata dokter seraya melepas stetoskopnya. “Berhubung saya membawa mobil dan sekalian praktek di Rumah Sakit, akan lebih baik bila ibumu bersama saya,” cetusnya sambil mencoba menenangkan.
            “Baiklah dok, saya mohon lakukan yang terbaik untuk ibu saya dokter. Saya bersiap-siap dulu, dok.”
            Kemudian kami berangkat bersama menuju rumah sakit tempat dokter tersebut dinas. Tak lupa aku mengajak adikku. Aku berusaha menenangkan adikku yang menangis tak kunjung henti. “Sttt, dik. Jangan nangis terus, donk. Ntar, kalo adik nangis terus, ibu nggak mau bangun,” ucapku menenangkan adikku. Perlahan adikku menghentikan tangisnya. “Ibu sakit apa?” tanyanya. Aku hanya menggelengkan kepala menjawab pertanyaan adikku.
           
            Setelah 15 menit melakukan pemeriksaan, akhirnya dokter memberitahu  bahwa ibuku hanya kecapaian namun dokter tak sengaja menemukan benjolan di perut ibuku yang di deteksi adalah tumor. Jika terlalu lama berada dalam tubuh ibu, bisa jadi tumor tersebut akan berkembang menjadi kanker yang akan merenggut nyawa ibuku. Ditambah kondisi tubuh ibu yang sudah payah. Jika tak segera dilakukan operasi pengambilan tumor, mungkin ibu akan semakin kesulitan dengan kondisi tubuhnya melakukan operasi. Biaya operasi awal diperkirakan mencapai 5 juta. Aku perkirakan uang tabunganku tidak lebih dari 4 juta, darimana aku mencari sisanya.
            Aku pulang ke rumah untuk segera mengambil uang tabunganku. Ibuku sudah sadar ketika aku tinggal pulang. Sehingga adikku menemani ibu di rumah sakit. Aku membuka kotak tabungan dan menghitung. Jumlahnya sekitar 3.425.000, sementara di dompetku sendiri masih ada 600.000 sisa dari hasil penjualan barang bekas kemarin.
            Segera saja aku bawa uang tersebut untuk membayar uang muka operasi. Tapi, nasibku hari ini rupanya tak seberuntung kemarin. Aku melihat seorang bapak tergeletak jatuh setelah beberapa saat yang lalu berlari mendahuluiku. Aku bingung apa yang harus aku lakukan. Bapak itu terlihat kesakitan memegangi dadanya. Apa ini? Jangan-jangan serangan jantung? Aku menoleh kesana kemari, tak ada satupun orang berlalu. Tubuh bapak ini tak begitu besar. Sedikit lagi juga bakal sampai ke rumah sakit. Mungkin lebih baik kubopong saja ke rumah sakit.
            Ternyata tak seringan yang kukira. Berat bapak ini berhasil menguras setengah tenagaku. Tapi, tidak mungkin bapak ini kutinggal tergeletak di pinggir jalan. Tak berapa lama, gerbang rumah sakit pun terlihat. Beberapa orang yang melihatku terengah langsung datang menolongku. Aku mengantarkan bapak ini sampai ke ruang UGD, kebetulan ruangan tersebut tak jauh dari ruang inap ibu. Aku menengok ibu yang tersenyum melihat kedatanganku. “Bagaimana keadaannya bu?”
“Alhamdulillah, sudah lumayan baik. Tadi dokter bilang apa saja ke kamu?” tanya ibu khawatir.
“Cuma kecapaian kok, bu. Sekarang, ibu istirahat saja disini. Sampai benar-benar pulih, jangan mengerjakan hal-hal yang berat dulu. Adik juga, jangan nakal ya,” ujarku sambil menggendong adikku.
“Rahmat, dari dulu kamu selalu seperti ini. Mementingkan kepentingan orang lain daripada dirimu sendiri. Ibu sangat bangga nak. Ibu hanya berpesan, tetaplah seperti itu, walau bagaimanapun juga keadaanmu. Karena semuanya juga akan kembali ke dirimu sendiri. Tidak akan sia-sia segala hal yang kamu lakukan untuk orang lain. Ingat-ingatlah itu.”
 Aku hanya tersenyum mendengarnya. Kemudian aku pamit untuk mencari dokter yang menangani ibuku untuk berkonsultasi masalah biaya. Namun, ternyata dokter tersebut sedang menangani pasien lain. Terpaksa aku menunggunya sambil melihat kondisi bapak yang kutolong tadi. Perawat yang menangani bapak tersebut terlihat menghampiriku. Kemudian aku diajak masuk ke ruangan dokter di dekat ruang UGD. Aku bingung apa yang harus aku lakukan, karena kenal dengan bapak ini saja pun tidak. Aku duduk berhadapan dengan dokter yang tampak terlihat tegang tersebut.
            “Permisi, ada apa ya dok?” tanyaku membuka pembicaraan.
            “Begini, nak. Bapak tersebut harus segera dioperasi. Untuk lebih jelas tentang kesehatan jantungnya, nanti saja saya jelaskan. Saya hanya perlu tandatangan kamu untuk menyetujui jalannya operasi ini. Untuk masalah biaya juga saya harap kamu memiliki uang sekitar 3 juta untuk uang muka biaya operasi ini,” jelas dokter tersebut. Penjelasan tersebut benar-benar tidak masuk ke dalam otakku. Rasanya kacau sekali. “Emh, tapi dok… saya ini…” ujarku bermaksud menjelaskan.
            “Tolong segera ditandatangani. Kalau tidak, kami tidak bisa berbuat lebih untuk menyelamatkan nyawanya.”
            Dengan terpaksa aku menandatangani surat kesediaan tersebut. Aku juga membayarkan uang 3 juta ku untuk orang yang tak kukenal. Namun aku teringat pesan ibuku, apa yang aku lakukan untuk orang lain tak akan sia-sia. Akhirnya, aku mengikhlaskan uang tersebut. Dan uang yang berada di tanganku tinggal 1 juta rupiah. Mungkin aku akan bernegosiasi dengan dokter yang menangani ibuku, agar aku bisa mengangsurnya secara bertahap. Ahh… memangnya kredit motor apa? Aku semakin bertambah pusing saja hari itu.
           
Sudah 3 hari ibuku tinggal di rumah sakit. Dan aku juga tidak masuk sekolah. Hari itu, bagaimanapun caranya, pihak rumah sakit memaksaku untuk membayar biaya rumah sakit. Aku pun menyempatkan makan pagi dulu di sebuah warung pinggir jalan. Sudah sejak kemarin aku tidak mengisi perut sama sekali. Aku pun memesan semangkok soto ayam dan segelas teh pada penjualnya. Kulihat beberapa pembeli juga sedang menikmati soto dan secangkir kopi di warung tersebut. Aku pun juga melihat seorang pemuda memakai jas juga duduk disampingku. Ahh… elit sekali, pikirku. Tapi, aku salut padanya, walaupun dia memakai jas, tapi tak malu untuk duduk bersama di warung rakyat kecil begini.
            Usai aku mengisi perutku yang keroncongan, aku kembali ke rumah sakit. Aku melihat Adit sudah berada di depan rumah sakit. Kusapa dia, “Dit, lho, kok ada di sini? Bolos ya kamu?”
            “Dasar, sejak kapan hari Minggu ada siswa yang sekolah?” jawabnya kecut. Aku menepuk kepalaku. Ah… betapa bodohnya aku sampai aku lupa hari begini. “Hahaha, sorry… temen kamu jadi agak bego begini. Ya udah, mau jenguk ibuku kan? Yuk…” ajakku.
            “Oh ya, Mat. Dari tadi tu perawat ngeliatin kamu terus lho. Naksir kali,” ujar Adit sembari jalan. Aku menoleh kanan dan kiri, namun tak menemukan perawat yang dimaksud Adit. Aku hanya menggelengkan kepalaku.
           
            Sesampainya di kamar ibuku, aku minta tolong Adit untuk menemaninya sebentar. Sementara aku akan membayar biaya rumah sakit. Aku menemui bagian administrasi rumah sakit untuk mencari tahu berapa besar biaya rumah sakit untuk ibuku. “Semuanya… dua juta dua ratus sepuluh ribu.” Alamak, uangku kurang lagi.
            “Ehm… mbak. Kalau saya angsur sembilan ratus ribu dulu gak apa-apa ya?” tanyaku kepada perawat itu. Tentu saja sambil kulontarkan senyum termanisku di depannya. Kata Adit, senyumku ini bisa meluluhkan hati para cewek di kelasku.
            Perawat itu tampak kaget, kupikir senyumku sudah nggak mempan lagi. “Maksudnya mas? Baru saja pembayaran dilakukan atas pasien dengan nama Sriyani. Semuanya sudah lunas kok.”
            Sekarang gantian aku yang kaget. “Hah, lunas? Lunas darimana mbak? Orang dari kemarin uangnya masih saya pegang. Salah orang kali. Jangan main-main lho, mbak. Saya lagi serius nih, nggak pengen bercanda.”
            Perawat itu terlihat sebal, kemudian mulai mencari tumpukan nota dan kwitansi di mejanya. Kemudian dia membacakan profil ibuku. Semuanya cocok. “Ini mas, tanda terimanya. Sudah puas mas? Bahkan biaya untuk operasi ibu mas juga sudah lunas. Mas sudah tidak perlu khawatir lagi dengan biaya rumah sakit. Semua sudah dibayar lunas.”
            “Serius mbak? Ehm… kalau begitu, apa mbak tau siapa yang membayar biaya rumah sakit tersebut?” tanyaku heran.
            “Ehm… disini cuman ada tandatangannya. Atas nama bapak Widjojo Soerjodiredjo.”
            “Alamatnya mbak?” tanyaku lagi.
            “Ya… mana saya tahu. Disini kan cuman ada tandatangannya aja. Lagian mas pikir, disini kantor kelurahan apa?” jawabnya judes.
            “Iya… iya mbak. Duhh… Galak amat,” ucapku sembari pergi. Terlihat perawat tersebut hanya melotot menatapku.

            Sudah setahun berlalu sejak saat itu. Akhirnya operasi yang dijalani ibuku waktu itu berjalan sukses dan kehidupan kami kembali seperti biasa. Sampai saat ini pun, aku tak pernah tahu siapa orang baik hati yang menanggung semua biaya rumah sakit kala itu. Aku hanya mengucapkan syukur pada Allah SWT atas segala sesuatu yang terjadi padaku. Hari ini pun, tak lupa aku mengucapkan syukur. Karena hari ini adalah hari pertama aku bekerja sebagai karyawan di sebuah perusahaan ternama. Aku beruntung sekali karena dari sekian banyak pesaing, aku yang terpilih untuk bekerja di perusahaan tersebut.
            Di perusahaan tempat Rahmat bekerja, Rahmat terlihat sedang berkenalan dengan rekan kerja barunya. Dia terlihat bahagia berada di tempat itu. Dari ruangan yang tak jauh dari tempat Rahmat, terlihat seorang bapak juga tersenyum memperhatikannya.
            “Bagaimana Pak Djojo? Semua sudah sesuai dengan apa yang bapak inginkan?” ujar seorang pemuda berjas yang nampaknya menjadi asisten dari bapak tersebut.
            “Ini semua memang sudah ditakdirkan aku bertemu dengan pemuda itu setahun yang lalu. Begitu pula hari ini. Aku sungguh bersyukur telah bertemu pemuda itu di usia tuaku ini,” ujar bapak itu tersenyum.
TAMAT

Exile.....
Kalo di-bahasa Indonesia-kan, artinya Exile tu "buangan", kasihan banget ya, kayak sampah gitu....
Eits, tapi jangan salah masalah kualitas lagu-lagu ma suara mereka, BAGUS BANGET... Palagi saya selalu terharu mendengar lagu-lagunya, Seperti lagu Ai Subeki Mirai E, Tada Aitakute, Michi, Angel, Unmei No Hito, Kawaranai Mono, Kimi Ga Iru Kara, Trus kesukaan teman saya yang suka tidur tuh, judulnya Song For You. Dan lagu yang sangat memberi saya semangat 45 buat perang, adalah Pure. Hahaha, padahal kalo dilihat lebih dalam, ni boyband rada aneh... Bayangkan saja 2 vocal yang suaranya merdu banget, yang satu si pemilik suara emas yaitu Atsushi, trus si cakep dengan suara dalam yang merdu, yaitu Takahiro. Mereka dikelilingi oleh 5 dancer yang tak kalah nyentrik.
Pertama kali mendengar suara mereka di lagu "Futatsu No Kuchibiru" saya langsung jatuh cinta dan ingin mencari lagu-lagu Exile yang lain, eh malah kena Toki No Kakera, Carry On, I Wish For You, Hibiki, Touch The Sky, Lovers Again, wah banyak deh, langsung saya berniat mencari videonya, dan ternyata saya baru nyadar kalo mereka sudah BERUMUR alias TUA. Wuaaahhh, patah hati... Loh?! Hehe, becanda... Walaupun mereka tua, tapi tetap di hati >,<

Bagi pecinta J-Pop seperti saya, patut dicoba deh, lagu-lagu di atas...
Pengen punya video live konser mereka juga... Pas ngeliat video "Angel" di Live Konser Fantasy bener-bener membuat tercengang...
Ahh,,, kapan saya bisa mendapatkannya  ya, semoga saja secepatnya... ^^

Sepertinya saya sudah sampai pada ujung perasaan yang harus saya hentikan. Saya harus menghentikan perasaan saya terhadap anda. Padahal baru kemarin saya merasa sangat menyayangi anda. Tiba-tiba harus saya akhiri secara tiba-tiba. Akhirnya, anda tetap tidak bisa melupakan dia. Anda semakin mencintai dia. Saya tahu... saya sangat tahu... sebenarnya anda tidak pernah memikirkan keberadaan saya. Tetapi saya selalu berusaha menjadi pondasi terkuat untuk diri anda disaat anda rapuh. Tapi, sepertinya tak akan berhasil sampai kapanpun. Bahkan saya berhasil melewati saat-saat tersulit dimana saya tidak pernah berada dalam hati anda, mimpi anda, maupun masa depan anda. Akhirnya saya harus menghancurkan pondasi yang menopang saya untuk mempertahankan hati saya.

Semua ini sudah harus saya selesaikan. Rasa sakit ini sudah berada di ujungnya. Begitupun perasaan saya sudah berada di ambang pintu. Dan saya harus keluar serta menutup pintu hati dan menguncinya lagi rapat-rapat. Tapi, mungkin kunci ini tak akan pernah bisa saya buang. Saya pasti menyimpannya. Menyimpan kenangan saya bersama anda. Menyimpan perasaan yang membuat saya kuat. Menyimpan perasaan yang menyakitkan di ujung hati ini.

Ahhh, sial!!! Apa ini? Apa maksud hati ini ingin terus bertahan? Ingin terus menyayanginya? Kenapa saya seperti ini? Hei... Apa maksud hati saya ini? Tidakkah hati saya ini mendengarkan apa yang dikatakannya? Kenapa? Apa hati saya menutup telinga tadi? Sadarlah hati... Saya bukan siapa-siapa baginya. Saya sudah berpikir terlalu jauh. Kenapa? Kenapa kau begitu kuat? Memberi dorongan pada diri saya agar tersenyum. Padahal saya tahu, hati ini menangis... Lebih baik kau rapuh saja daripada merepotkan saya seperti ini. Sampai kapan kau ingin terus bertahan? Sampai melihatnya menikah dengan orang lain? Haaa? Apa kau dengar hati??? Tolong, turuti perintah saya!!!

Apa yang membuat kau begitu keras kepala menyayanginya? Bukankah kau sudah dengar apa yang dia ucapkan tadi? Saya tahu anda menutup telinga mendengar apa yang dia katakan... Anda tetap yakin pada dirinya. Sudahlah hati, hentikanlah perasaanmu terhadapnya.

Apa yang harus saya lakukan saat ini? Bagaimana cara menghentikannya? Lebih baik semua ini kembali seperti dulu, ketika hati ini mati dan membisu. Dan tidak memberikan saya pondasi sekuat ini.

Yahh... Benar, saya semakin sayang sama anda. Walaupun saya ini bukan siapa2 bagi anda. Tapi, rasa yang saya rasakan tidak bisa digambarkan. Entah kenapa saya semakin melihat kehidupan saya dengan anda. Tapi, mungkin anda tidak tahu hal ini. Kenapa saya begitu menggilai anda ya? Melihat anda tersenyum, dan merasakan apa yang anda rasakan membuat saya semakin mengerti bahwa saya sangat mencintai anda. Saya sudah terjebak oleh perasaan yang tak karuan. Setiap hari setiap jam setiap menit setiap detik saya selalu ingin memperhatikan anda, mencoba membuat anda tersenyum, dan memikirkan anda. Parah!!!

Perasaan ini sudah sangat parah, sampai saya membayangkan masa depan saya dengan anda. Hanya dengan senyuman anda, candaan anda, saya semakin hidup Saya ingin merasakan senang dan duka saya dengan anda. Saya juga ingin menjadi sandaran untuk diri anda. Saya ingin hubungan ini lebih berarti dari hubungan yang pernah anda jalani. Bahkan saya selalu ingin lebih.
Bolehkah saya? Bolehkah saya singgah di hati anda?
Bolehkah saya menjadi pendamping diri anda?
Ahh... rupanya saya terlalu berpikiran jauh. Saya ingin melihat anda berhasil terlebih dahulu. Saya ingin melihat anda berkata "Saya berhasil, Rizky" dengan senyum cerah anda memeluk saya. Karena kebahagiaan anda menjadi kebahagiaan bagi saya.

Perasaan ini sungguh terasa, tidak mengada-ada. Saya ingin berbuat banyak untuk anda, berbuat lebih untuk anda. Bolehkah saya?
Malam ini pun saya masih memikirkan anda lebih dari yang lalu. Saya tidak menyangka akan seperti ini di hadapan anda. Jujur saja saya tidak menyangka. Saya benar-benar memandang diri anda sebagai anda. Dengan segala kelebihan dan kelemahan anda. Saya ingin terus berada di sisi anda. Sampai kapanpun. Karena saya sudah tidak ingin dan lelah mencari kenyamanan yang tidak pernah saya temukan sebelumnya selain di diri anda. Sebegitu keras kepalanya perasaan ini sampai saya tidak pernah menyerah untuk anda. Saya selalu ingin menjadi pendukung yang terbaik untuk anda. Saya selalu merasa bersabar jika pada suatu waktu anda lelah dengan saya, anda bosan dengan saya. Dan berjalan dengan yang lain yang saya tahu di luar sana juga banyak yang mencintai anda. Walaupun terkadang membuat saya terluka. Tapi, lihatlah! Saya tidak pernah menyerah. Saya tidak tahu kekuatan apa yang berhasil menopang saya. Yang saya tahu, saya yakin dengan anda. Saya yakin perasaan ini tidak salah. Saya yakin jalan inilah yang saya tuju.
Sekali lagi, bolehkah saya? Bolehkah saya lebih dalam mengenal anda? Bolehkah saya lebih menyayangi anda? Bolehkah saya?

Bagi saya, anda sudah menjadi separuh hidup saya. Saya terkadang gelisah setengah mati bila kehilangan kabar dari anda. Sampai kata orang, membuat saya menjadi gila. Anda benar-benar sangat berarti bagi saya. Apa saya berlebihan? Katanya, sesuatu yang berlebihan itu tidak baik. Tapi, bagaimana cara mengatasi semua ini? Saya hanya bisa memandang anda dan merasakan perasaan anda. Dan sekali lagi kukatakan bolehkah saya?

Hari pertama....
Hari pertama... dan kesan pertama....
Seharusnya begitu excited... Secara, saya sudah lama tidak merasakan asiknya kerja. Tapi, kesan pertama saya hari ini, lumayan melelahkan. Melelahkan dalam arti bukan lelah fisik tapi lebih tepatnya lelah hati. Lelah untuk menunggu... Fuhh...
Berangkat dari kos-kosan pukul 08.15, dan tiba di tempat tujuan tepat pukul 08.30. Pada awalnya saya sumringah. Begitu menyenangkan merasakan pengalaman baru kerja di tempat yang sudah bonafit. Tenaga dan otak saya sudah tak sabar untuk bekerja hari itu. Apalagi, ketika diberitahukan bahwa kami dapat upah pengganti dari kinerja kami di perusahaan itu. Wahh, semakin sumringah saja saya ini.
Tapi, kenyataannya berkehendak lain... saya dan teman saya sukses menunggu dari kami tiba di perusahaan sampai pukul 14.00, untung saya tidak menjadi gila gara-gara hal tersebut. Yahh, maklum lah, perusahaan sangat sibuk pada hari itu. Sehingga, banyak tamu-tamu yang terlihat penting datang untuk meeting bersama karyawan perusahaan tersebut. Dan apesnya, saya dan teman saya terjebak dalam situasi yang sedemikian rupa. Akhirnya sekitar pukul 14.00, kami diusir pulang, hehe just kidding.
Yahh, begitulah pengalaman pertama saya magang. Huff, semoga besok lebih dan lebih baik lagi dari hari ini. Okey, Fighting.....

Baju? Udah masuk...
Perlengkapan pribadi? Masuk...
Almamater? Sepatu? Beres...
Tinggal apa ya? -,-a

Bingung, satu kata itu lah yang terlintas di pikiran saya. Entah saya ini bisa dibilang siap atau tidak menghadapi hari esok yang akan membawa saya ke kota Surabaya. Yupz, berkelana lagi...
Saya pernah selama 18 tahun di kediri (tempat lahir saya) lalu berkelana mencoba keberuntungan nasib di Jakarta selama 5 bulan, lalu berniat untuk meneruskan cita-cita orang tua yaitu kuliah di Malang, dan besok saya akan melaksanakan praktek kerja lapangan saya di Surabaya selama 2 bulan. Yang paling membuat saya tidak bisa tenang adalah... Saya hidup disana dengan DIA. Haemhhh.... Saya ini lebih tepatnya apa ya? Lebih tepatnya, harus menyiapkan jiwa saya yang..... -,- Sampai di blog pun, saya tidak bisa menemukan kata-kata yang tepat untuk menggambarkan kegundahan hati saya.

Apalagi kami tinggal satu atap... :-( Maksud saya, satu kost... Berhubung kost'an disana yang bisa dibilang murah cukup langka... Sehingga, rumah orang pun jadi... Hemh, terpaksa ga ya, kira-kira yang punya kost2an ngasih tempat buat anak-anak begundal yang doyan makan dan nge-game ini... Haha, semoga saja... Semoga saja kami tidak merepotkan...

Surabaya... Saat saya masih kelas 4 SD, saya pernah benar-benar merindukan kota ini. Padahal saya cuman sekedar 1 minggu liburan disana. Saya ingat betul kejadian itu. Dan sekarang tinggal menghitung jam saja, saya akan segera menempatimu....
Hemh, semoga tidak ada halangan apapun selama hidup disana. Dan selalu dilancarkan segala urusan saya... Amin.. :-D

Beberapa jam, beberapa detik, beberapa waktu terpikir oleh saya saran seorang sahabat... Saran yang begitu perih dan sulit untuk saya jalani. Bahkan terasa berat menahan airmata yang seolah ingin merebak keluar. Dan saya hanya bisa memalingkan wajah. Saya tidak pernah sekalut ini beberapa tahun yang lalu. Kini, hampir setahun saya melewatinya. Melewati saat-saat bersamamu. Melewati saat-saat dimana kita tertawa bersama, bahkan bertengkar. Tapi, akhir-akhir ini saya semakin sering menangis dalam hati. Hmm, mungkin karena dalam beberapa bulan ini, saya semakin kuat dan jarang menangis. Makanya malah pengen menangis. :-D
Tapi tahukah anda, setiap hari kudendangkan lagu kesukaan kita. Dan terbayang di benakku, andapun juga menyukai lagu kesukaan anda dengan orang lain. Setiap hari kutatap layar handphone ku berharap ada sms darimu. Dan saat itu pula terbayang di benakku, anda juga berharap mendapat sms dari seseorang yang anda tunggu. Tidak ada ikatan yang mengikat kita. Saya dan anda bebas berbuat apa saja dan dekat dengan siapa saja. Tapi, saya tidak bisa... Saya tidak sanggup untuk meniti hati lagi dengan yang lain. Entah sampai kapan rasa setia ini menggembok hati saya. Dan akan tetap melihatmu istimewa. Segala sesuatu dari anda istimewa bagi saya. Terus terang saya sudah mengenal anda. Siapa diri anda? Apa yang anda sembunyikan? Walau mungkin ada satu atau dua yang salah saya deskripsikan. Saya tetap berdiri di atas hati ini, hati yang sudah sangat menyanyangimu. Hati yang siap sakit ketika anda mengharapkan perhatian dan rasa cinta dari yang lain.
Saya pernah merasa sangat teramat sakit suatu waktu itu. Sehingga selama beberapa waktu, hati saya hancur tercabik-cabik seketika. Saya tahu bagaimana rasanya. Dan saya tidak ingin anda mengalaminya. Mungkin sahabat saya kasihan dan sebal melihat ketidak berdayaan saya di hadapan anda. Tapi, saya katakan sekali lagi. Saya tidak sanggup dan saya tidak bisa untuk menghentikan hati ini. Mungkin terlambat...

Saya hanya berharap di hati kecil saya saat ini, anda melihat saya... Dan anda bisa melihat betapa saya menyayangi anda.

Dulu, waktu jaman saya masih kecil. Ada satu hal yang tidak pernah saya lupakan, yaitu mainan. Kalo jaman sekarang semua mainan serba modern, mulai dari game play stasion sampe game online. Bahkan, anak kecil jaman sekarang mainannya adalah BB. Bau badan? ya nggak lah. Dan pertanyaan yang selalu muncul di mulut mereka yang maniak BB, adalah "Pin lo berapa?". Beda banget ketika jaman saya kecil dulu. Mainannya hanya seputar tanah, batu, ama karet. Simpel banget! Yah, mungkin kalo mau yang agak modal dikit, mainannya bongkar pasang, ular tangga, atau monopoli. Itupun saya hanya bermain bongkar pasang sama ular tangga, karena orang tua saya selalu melarang saya main monopoli. Mungkin, karena menurut mereka monopoli itu tidak jauh beda dengan judi. Tapi saya pikir, mereka hanya tidak ingin anaknya gila harta, hahaha. Sangat tidak lucu, ketika tiba2 nanti, kalo ada tamu ortu saya yang datang, saya sodori sama dua tumpukan kartu beda warna, yang tulisannya DANA UMUM sama KESEMPATAN. Atau jika mereka tidak mau memilih, saya akan tahan mereka di penjara. Tentu saja, tidak ada orang tua yang ingin anaknya seperti itu.

Ngomong-ngomong tentang mainan, waktu saya SD, saya masih ingat satu mainan yang membuat saya berpikir bahwa saya ini tolol, polos, atau gampang banget diperdaya. Pernah suatu saat, ketika saya duduk bersama teman saya, terjadi percakapan seperti dibawah ini :
S   = Saya
TS = Teman Saya

Di suatu siang yang panas...
TS = "Aku punya mainan baru lho, dikasih temanku kemarin..."
S   = "Apa itu?"
Dia mengeluarkan sebuah buku kecil mirip diary dan membukanya. Disitu nampak sebuah bulu kecil berwarna pink. Bulu itu tidak lebih dari sekedar bulu kemoceng.
TS = "Ini mainanku"
Saya bengong...
S   = "Trus?"
TS = "Jangan beri tahu siapa-siapa ya. Bulu ini sebenarnya hewan lho. Dan dia hidup..."
Seyogyanya, kalo seorang manusia diberi tahu hal yang sangat tidak wajar, tentu saja dia akan berkata "Lo udah gila?" "Ya nggak mungkin lah" "Bercanda ahh" "Lo mabuk ya" Tapi...
S   = "Masa sih?" dengan raut muka bersinar2 kayak spongebob
TS = "Beneran, kemarin barusan tak kasih makan. Dihabisin ma dia."
S   = "Wah, hebat donk. Makanannya apa?"
TS = "Serutannya pensil"

Sejak saat itu saya telah terkena tipu daya teman saya untuk menjadi gila seperti mereka. Karena saya tidak punya bulu yang warna warni, akhirnya terpaksa kemoceng di rumah, saya cabutin bulunya. Tentu saja, saya tidak mungkin langsung mencabut bulu ayam. Selain ayamnya nanti bakal marah, ayam itu bukan punya saya, tapi punya tetangga.
Setelah mendapat omelan dari nyokap saya, karena saya selalu mencabut bulu kemoceng di rumah, dan menyebabkan nyokap saya beli kemoceng lagi, saya complain pada teman saya.
S   = "Bulu yang aku pelihara kok gak mau makan. padahal udah tak kasih serutan pensil yang banyak. Apa nggak doyan ya?"
TS = "Coba lihat punyamu donk"
Akhirnya saya mengeluarkan bulu warna cokelat hasil menjarah kemoceng milik nyokap. Dan dengan tegas dan yakin teman saya berkata.
TS = "Bulu milik kamu itu udah tua, udah mau mati."
Saya bengong lagi...
TS = "Nih, kemarin aku beli ke temanku. Bagus kan... Warnanya biru muda. Trus temen sebangkuku juga nitip yang warna hijau pupus. Kamu nggak mau nitip beli juga? Oh iya, yang pink kemarin udah beranak lho. Ni anaknya..."
Kemudian dia menunjukkan bulu yang lebih kecil yang ada di diary nya.
S   = "Hehe, nggak deh, makasih..."

Serem kan? Bayangin aja... BULU kemoceng, HIDUP, makan SERUTAN PENSIL, BERANAAAAKK...
Bedain mana cowok mana cewek aja kagak bisa, gimana dia bisa beranaaaakkkk... Saya semakin nggak bisa bayangin, ketika mereka para bulu, benar2 hidup dan berprofesi sebagai kemoceng. Lalu mereka mengadakan demo besar2an, "Tolong, beri kami istirahat!!" dan ada lagi yang teriak "Tolong, istri saya melahirkan! Panggilkan ambulans cepetan!!" trus ada lagi yang protes "Kalian manusia semua tega, jangan memperkerjakan anak dibawah umur, biarkan mereka sekolah!" Ya Allah, Ampuni teman saya Ya Allah... Baru saat itu saya sadar, betapa tolol dan polosnya saya. Yahh, ok, cukup! saya tidak mau mengalaminya lagi. Bukan karena saya ditipu oleh teman saya, bukan! Hanya karena saya tidak ingin piaraannya saya dianggap tua dan udah mau mati. Itu ajaaahh....
Nih makhluk mengerikannya...

Bayangin...
Dia adalah BULU, dan dia HIDUP ??? #Merinding


Ayo kawan kawan yang pengen ikutan talk show dengan guest star Teddy Davonar, penulis buku :
1. Surat Kecil untuk Tuhan
2. Ayah, mengapa aku berbeda
3. Misteri kematian Gaby dan lagunya Jauh
4. My Blackberry girlfriend

Bagi 100 pendaftar pertama dapat buku gratis dan terbaru dari Teddy Davonar...
Tentu saja ada doorprize yang menanti...

Oh iya, kalo beli tiket 10 dapat 1 tiket gratis lho... Buruan...!!!

Berhentilah...
Ingin kuhentikan sesuatu yang tak bisa kuhentikan...
Sesuatu yang selalu tumbuh, dan semakin tumbuh...
Aku sudah terlalu lelah menghadapinya...
Sesuatu yang bagai rumput liar...

 Diinjak, dikotori, diacuhkan begitu saja...
 Tak peduli panas dan hujan yang menerpanya...
 Dia tetap tumbuh menghijau...
 Seakan bahagia dengan kehidupannya...

Ingin kupotong... Kucabut akarnya...
Hingga sakit, rumput tak berdaya terpegang erat di genggamku...
Serpihan kebahagiaan yang sempat menghijau...
Kan kusebar hingga terbang bebas jauh di angkasa...
Dan tak kembali...

 Tak terpikir apa yang ku perbuat sia-sia...
 Aku akan selalu melihat rumput itu tumbuh lagi...
 Seolah memaafkan perbuatanku...
 Sedih... Hancur...
 Selamanya melihat rumput yang tak berbunga...

Dan takkan pernah pula kulihat...
Rumput itu mamancarkan sipu...
tersanjung olehnya...

 Tak pernahkah kau tunjukkan...
 Rasa sakit yang selalu menggerogoti bagianmu...
 Mengapa tak ku bakar saja, biar rumput itu menangis...
 Agar aku bisa berhenti melihatnya tersenyum dalam duka...
 Tersenyum tanpa bunga...

Hati...
Telah menjadi karang
Tak peduli berapa besar ombak menghempasnya
Seberapa kuat badai menghantamnya

Serpihan kepercayaan
Menjadi pondasi hati yang semakin sakit
Dibayangi mendung masa lalu
Terukir jejak yang tak berbekas

Hujan menjadi selimut duri di setiap harinya
Gemuruh ombak menjadi teman bahagianya
Semua mengitarinya
Karang pun tersenyum
Bangga akan kekuatan dirinya

Karang itu tidak menangis
Tidak tertawa
Hanya tersenyum
Percaya... Dan
Lelah...

Lihatlah, matahari bersinar
Di atas karang yang sendu
Masih berselimut duri
Matahari tak tahu dan tak akan tahu
Karena karang tetap kokoh bersamanya

Nyanyian pelangi tak pernah membuat tenang
Matahari selalu menantinya
Dibalik rintik hujan perak
Hujan menjadi masa lalu perih bagi sang karang
Tak mampu merubah keyakinan matahari terhadapnya

Hanya memandang jauh...
Sendu dan tersenyum
Menatap matahari dibalik bayang-bayang pelangi...

Sesaat semua ini seperti sesuatu yang saya tunggu... Tapi tetap saja membuat saya berpikir, benarkah apa yang saya lakukan? Apakah tidak terlalu bodohkah saya? Mengharap semua ini cepat berakhir namun tidak ada yang saya akhiri. Tidak ada tindakan untuk menyelesaikannya. Tidak... Saya hanya terus membangun pondasi kepercayaan yang entah saya dapat dari mana. Rasanya semua yang saya lakukan ini akan sia-sia, hanya kekuatan yang saya dapat. Kekuatan untuk menahan hantaman ombak yang tidak menentu. Dinding yang saya bangun terlalu kuat sampai orang lain memandang heran. Ataukah ini suatu bentuk ketidakpedulian? Tidak peduli sedahsyat dan sehebat apa ombak itu, saya tetap bertahan. Tapi, benarkah apa yang saya lakukan? Tidakkah ini terlalu tergesa-gesa. Tergesa-gesa untuk siap menerima rasa yang tak terbayangkan. Selalu diam... bertindak ceroboh... dan menyesal.

Diam... Diam... Saya selalu terdiam. Ketika hati dan pikiran mengoyak kinerja otak saya. Saya diam... Tak peduli keadaan sekitar. Saya tidak ingin membuat orang berpikir betapa anehnya saya. Tapi, dengan perilaku saya yang seperti itu justru menampakkan betapa anehnya saya. Sekali lagi saya diam. Sibuk dengan perasaan saya sendiri. Sibuk merasakan denyut nadi, detak jantung, bahkan rasa sakit yang ada di tubuh saya. Sampai orang lain tak ku ijinkan masuk untuk mengetahui apa yang kurasa sebenarnya. REAL!!! Perasaan sebenarnya yang hanya saya dan Allah saja yang tahu. Setiap hari saya selalu gelisah. Saya tahu penyebabnya, tapi saya tidak mau cerita. Cukup ini menjadi masalah pribadi saya, dan hanya saya yang bisa menyelesaikan. Kurasa tulisan ini hanya bentuk kegalauan dan kekesalan sesaat atas ketidakstabilan perasaan saya saat ini.

Tugas... Tekanan... Target... Deadline...
Huff... Semua berputar putar di kepala saya... Sampai kapan????
Pengen mengakhiri dan melupakan semuanya... SEMUA!!! Tanpa terkecuali!!!
Pengen banget bisa konsentrasi pada satu hal. Tapi, semua rasanya mengerubungi kepala saya dan berputar2, Ahh... Udah bubar... BUBAR!!! Pergi sana!!! Jujur saja saya capek, pengen istirahat. Tapi ini tahun yang berat dalam hidup saya. Berbagai masalah masuk begitu saja. Masalah kuliah, sosial sampe masalah hati pun ikut2an. Tuh kan kompak... Kalo kayak gini aja mereka kompak. Menyebalkan... Tapi semua ini harus saya jalani dengan muka tersenyum. Syalalalalalala, kayak orang gila lama2 saya ini. Sekali lagi, pertanyaannya adalah SAMPAI KAPAN???? Sampai kapan saya gini terus???
Pengen kerja aja rasanya... Lembur, kerja keras, dapet duit. Lah ini, lembur, kerja keras, bukannya dapet ilmu, malah dapet tekanan yang terus2an. Hufff... Capek! Tapi, ada juga sih yang nggak setuju dengan pendapat saya. Ya, memang semua ini bakal saya jalani kok. Tenang aja... Kegilaan saya masih dibawah akut kok. Kalo akut gimana? Ya... masuk rumah sakit jiwa lah... Paling tidak saya belum membutuhkan seorang psikolog untuk saat ini. Tapi, butuh sesuatu yang bisa dimarah2i, ditonjok, dan dianiaya. Disaat semua ini saya butuhkan, selalu saja ada kendalanya. Membuat saya semakin gila dan semakin banyak melongo. Pernah suatu hari saya membayangkan diri saya duduk di pinggir jembatan sambil menggoyang2kan tangan saya ke jalan. Autis banget... Amit2!! Jangan sampe saya kayak gitu...
Yah, saya hanya berharap cobaan ini segera berakhir dan saya bisa melaluinya dengan lancar... Amin... :-)

Laper... Tapi lagi ga pengen makan makanan berat...
Trus pengen ngemil, yang manis2, empuk dan nyaman di lidah...
Wah, kayaknya roti paling cocok nih. Tapi dimana ya, toko roti yang enak kayak gitu.
Hmm... Saya sarankan bagi warga kota Malang untuk mencoba produk yang dijual di Miruku Patisserie ini, dijamin Wuiiiihhhhhh Mak nyooossss... ^_^b
Beralamatkan di Jl Letjen Sutoyo 118 Malang, toko roti ini terlihat sederhana namun mewah. Mereka memproduksi bermacam2 roti yang menggiurkan. Pada awalnya saya tertarik dengan tulisan patisserie di nama toko tersebut. Setelah memaksa teman saya untuk mencoba mencicipi produk yang dijual di toko itu, ternyata... ENAK BANGET... Serius. Waktu itu saya membeli roti namanya Yin Yang apa gitu... Saya agak lupa. Tapi, rasanya tidak bisa saya lupakan. Empuuukkk banget. Hadaaahhh... Sadap dah... :-D
Lalu saya mencoba membeli pastry. Dan apa yang terjadi pada saya? Saya mendelik ketika merasakan gigitan pertama saya. WOW, AMAZING!!! Inikah pastry yang sesungguhnya? Saya bukannya lebay. Tapi memang, saya sangat takjub ketika memakan roti tersebut.
Teman saya yang penyuka Croisant, langsung menyarankan saya untuk membeli croisant. Tentu saja, tanpa pikir panjang, beberapa hari yang lalu saya bersama teman saya langsung menuju TKP. Yippie... Croisantnya masih ada, tapi tinggal yang cokelat. Wah, kesukaan teman saya nih... =.="
Dan apa reaksi teman saya ketika memakan croisant cokelat tersebut? Dia seperti menemukan pulau harta. Raut wajah dan tatapan matanya terlihat bahagia dan senang. Sepanjang teman saya memakan croisant itu, dia tersenyum terus. Wah... Wah... padahal tidak pernah teman saya bisa sebahagia ini hanya dengan makan roti. Saya pun tertarik mencoba croisant mozarella di lain hari. Dan apa yang terjadi pada teman saya menimpa saya. Sepanjang saya memakan croisant itu dan setelahnya saya terus tersenyum seperti orang gila.

Kesimpulannya, kalau saya harus menilai dari angka 1-100, Miruku Patisserie mendapat point 95. Jujur, saya tidak bohong. Kualitas produk dan pelayanan benar2 memuaskan. Ahhh... pengen kesana lagi... Masih banyak produk di Miruku patisserie yang belum saya cicipi. Ya udah deh, langsung aja... Tancap!!! :-D

Saya ini orang yang benar2 egois... Disaat teman2 ingin membantu saya, saya malah seperti ini. Selalu begini... Kapan kira2 saya bisa berubah. Saya selalu membuat orang2 di sekitar saya kecewa dengan sikap saya. Saya termasuk orang yang seenaknya sendiri. Merasa permasalahan saya itu berat. Dan jujur saja, saya selalu ingin menyelesaikan masalah saya sendiri. Tapi, ujung2nya selalu merepotkan teman2 saya. Bisa dibilang saya ini, PAYAH banget... Orang payah seperti saya ini tidak pantas menasihati orang yang lebih bisa mengendalikan emosi dan berpikir tenang seperti kebanyakan orang. Saya sudah tidak tahu dimana saya harus curhat. Rasanya blog ini yang mau menampung tulisanku. Ahahaha, maaf bagi yang pernah saya buat kecewa, inilah saya. Seorang yang payah... Saya akan lebih banyak belajar lagi. Jadi, tolong ingatkan saya, tapi jangan tinggalkan saya. Saya ini memang manusia yang banyak kekurangan. Tak tahu apa yang harus diperbuat kalau sudah ditinggal oleh mereka, teman2ku. Tapi, kalau mereka berniat meninggalkan saya, saya ikhlas. Walaupun hati saya rasanya sakit.
Saya rasa selama ini, saya mempunyai banyak teman yang mau mendukung saya. Tapi, saya selalu dan sering kali mengecewakan mereka. Maaf... Kalau sudah seperti ini, saya merasa ingin menghukum diri saya sendiri. Entahlah apa yang ada di pikiran mereka mengenai saya. Mungkin lebih banyak buruknya. Ya... Ya... Ya... Saya tahu. Saya akan mulai belajar bagaimana cara menghargai orang. Bagaimana menghargai waktu yang orang lain berikan pada saya. Bagaimana cara membalas kebaikan orang lain pada saya. Bagaimana cara saya memberikan perhatian tanpa mengenal siapa pun orang itu. Dekat atau tidak. Saya harus belajar mulai dari sekarang. Tulisan ini, akan selalu mengingatkan saya, betapa berartinya sebuah perhatian yang kita berikan pada orang lain. Betapa berharganya kebaikan orang  lain kepada saya.
Kepada orang2 yang memberikan pelajaran berharga pada saya, saya ucapkan terima kasih banyak. Arigatou... :-)

Ngakak, sakit perut, pengen ke toilet, nangis, film ini bener2 konyol 100%. Bukan lagi konyol deh, tapi dah gila banget ni film. Ga perlu mikir kalo lihat film ini. Dijamin ngakak guling2 dah... Saya pertama lihat ni film, gara2 rating konyolnya cukup bagus di indow**ster. Dan ternyata saya tidak hanya ketawa lihat film ini, tapi juga sedikit gila...
Awal cerita adalah ketika salah satu dari 5 sahabat kena tilang oleh seorang polisi yang menjaga di mesin pendeteksi kecepatan. Dia tidak terima ditilang karena dia merasa tidak mengebut waktu itu. Karena rasa solidaritas yang tinggi, kelima sahabat itu berencana untuk menjaili polisi itu. Mulanya mereka memakai sepeda untuk membuat mesin pendeteksi kecepatan bekerja sampe mereka membawa peralatan musik.
Polisi yang udah sebel dengan tingkah laku mereka, juga ikut2an terbawa oleh kejailan mereka sehingga membalas dendam pada kelima sahabat itu.
Tapi, akhir ceritanya juga bagus, karena hikmah yang dapat diambil adalah, kebersamaan dapat membuat yang tidak mungkin menjadi mungkin. Saya sangat salut pada persahabatan mereka. :')

Berharap ada 700 Days of Battle Us VS Police 2...

Lelah, Capek, Bosen, mang paling enak lihat film...

Apalagi dorama Jepang, aduh... paling TOP Number 1 deh, Walaupun temen2 saya banyak yang gembar gembor drama asia Korea, tapi saya sudah tidak tertarik lagi. Ga tau kenapa. Yang jelas, drama Jepang memberi semangat n motivasi tersendiri buat saya. Episode nya juga dikit. Jadi, ceritanya juga ga muluk2 amat. Habis lihat drama Jepang pasti saya langsung SEMANGAT!!! :-D

Ni daftar dorama Jepang yang menurut saya paling ciamik. Tapi, yah... itu menurut saya...

1. DRAGON ZAKURA
Ni dorama mantab abis, ternyata banyak jalan menuju Roma. Banyak cara belajar untuk menempuh ujian universitas. Dari siswa-siswanya yang males, pesimis, jadi luar biasa ya cuman ada di film ini karena cara belajarnya cukup aneh. Dari yang nyanyi n senam, trus olahraga, sampai baca komik. Yah... agak mirip ma GTO (Great Teacher Onizuka). Buat yang sedang menjalani masa-masa ujian masuk, mending nonton ini deh. Jadi semangat belajar kalo lihat dorama ini.

2. ZETTAI KARESHI
First time dorama ini konyol n lucu abis. Soalnya disini Hayami Mokomichi yang memerankan robot bernama Night, benar2 menjiwai perannya. Dari gerakan tubuh, cara ngomong, sampe caranya berkedip. Luar biasa! Ni aktor bener2 hebat. :-D Mulai menuju akhir cerita, konflik mulai terjadi. Dan ending nya, saya berhasil nangis. Bagus banget ni cerita. Mengajarkan kita bahwa kasih sayang itu lebih terlihat indah dan nyata dalam bentuk pengorbanan. Jadi tidak sekedar bentuk perhatian aja. Hahaha...

3. HANAZAKARI NO KIMITACHI E
Dorama ini penuh dengan aktor2 tampan nan rupawan. Bagaimana tidak, ada Oguri Shun, Ikuta Toma, trus Mizushima Hiro. Wadaah, bisa mupeng beneran nih kalo saya jadi Ashiya  Mizuki di dorama ini. Tapi, ogah juga kalo harus berpura2 jadi cowok. Hehehe... Tidak banyak komentar. Cukup menarik, lucu, dan konyol abis.

4. SCRAP TEACHER
Hehehe, kalo yang satu ini sih gara2 saya suka Hey Say JUMP! Jadi ya... gitu deh... :-P Tapi, diluar dugaan mereka tidak hanya berbakat menyanyi dan dance tapi juga akting. Apalagi Yamada Ryosuke >.< Peran yang agak sombong, cuek dan judes bikin dia tambah mempesona. Yamada benar2 menguasai karakter ini. Dorama ini bagus, mengingatkan kita bahwa masih banyak siswa yang peduli terhadap sekolah dan mau mempertahankan sekolahnya.

5. HAMMER SESSION


Dorama ini saya tonton gara2 ada Hayami Mokomichi, sempat ragu juga sih soalnya ada Shida Mirai disitu. Saya kurang begitu suka dengan aktris ini. Selain digosipkan dengan Yamada Ryosuke, saya juga kecewa dengan perannya di A Little Princess. Melihat dorama tersebut rasanya pengen ngantuk aja. Jalan ceritanya mudah ditebak. Tapi, akhirnya saya memutuskan menonton Hammer Session ini, peran Shida Mirai disini jauh lebih hidup dibanding dengan peran putri di A Little Princess. Apalagi Hayami Mokomichi, aktingnya benar2 membuat saya tergila2. Walaupun disini, aktingnya adalah sebagai penipu.

6. HIDARIME TANTEI EYE
Sekali lagi saya tertarik pada dorama ini karena ada personil Hey Say JUMP yaitu siapa lagi kalo bukan Yamada Ryosuke yang memang kebanyakan film2 nya mengandung detektif2an. Haha... Dorama ini benar2 sulit ditebak gimana akhirnya. Mulai dari Hidarime Tantei Eye SP saya sudah gregetan banget. Tapi dorama ini juga layak ditonton karena konflik dari kasus2nya sampai konflik perasaan semua jadi satu paket disini. Sayangnya, disini konflik perasaan yang digambarkan bukan kepada kekasih, namun pada keluarga. Jadi, saya tetap enjoy  melihatnya.

7. BAMBINO
Kalo dorama yang satu ini membuat saya sangaaaat lapar. Hmm... saya merasa ngiler ketika melihat pasta di dorama ini. Matsumoto Jun benar2 pandai memerankan peran Ban disini. Dari yang sangat sombong dan bisa segalanya sampai peran payah dan tidak berguna. Benar2 terasa perannya disini. Pembangkit semangat yang cukup bagus, walaupun di awal cerita kita harus melihat kepayahan seorang Ban, sehingga tidak banyak penonton yang merasa jengkel sendiri. Itu artinya, aktingnya sangat bagus. :-D

8. MR. BRAIN
Kalo dorama yang satu ini, saya baru kemarin menontonnya. Dan ternyata sangat bagus. Wah, peran Takuya Kimura sangat menarik disini. Banyak pengetahuan juga yang bisa saya ambil disini. Saya juga lebih bisa membaca gerak gerik orang. Ahahaha... Satu lagi, di dorama ini banyak bertabur bintang. Salah satunya GACKT, aktingnya bikin merinding. Duh... Ternyata ni orang tidak hanya pintar nyanyi.

Wah, itu aja sementara dorama Jepang yang saya suka. Sebenarnya masih banyak lagi dorama yang bisa saya sarankan untuk dilihat. Tapi, 8 dorama tersebut yang paling saya suka. Kapan2 saja saya posting film Jepangnya. Hahaha... Semoga bermanfaat. :-D

Mungkin itu kata yang tepat untuk mengungkapkan apa yang saya rasakan hari2 ini...
Baca buku, nyari bahan, hubungi dosen, mondar mandir di ruang dosen, nungguin dosen, nyari alamat rumahnya dosen, hmm... dosen di jurusan saya serasa seperti artis. Ada yang seneng dikerubungin ma mahasiswanya. Saking ge'er nya dosennya sampe bilang gini, "Kalo ada yang nyari'in saya, bilang saja suruh nemuin saya di bank *** ya?" sambil senyum2 girang. Duwh, nggak banget deh, nguber2 dosen yang tingkahnya kayak gitu. Tapi, mau gimana lagi kalo kepaksa. Seabrek perasaan bercampur aduk. Dari yang udah seneng dapat dosen pembimbing yang diinginkan sampe yang dibuat repot sama dosen2 yang suka menyiksa mahasiswanya.
Seperti hari pertama saya mencari dosen. Semua dosen sudah full membimbing mahasiswanya. Karena dari jurusan sendiri sudah ditentukan kuota masing2 dosen. Kuota yang cukup crazy menurut saya. Kenapa bisa? Bayangkan saja, jumlah mahasiswa D3 di jurusan saya ada 100 orang, sedangkan dosennya ada 30 orang. Nah, panitia menetapkan satu dosen membimbing 2 mahasiswa D3. Hooiiii, plis! Bisa ngitung ga sih? Yang 40 mahasiswa lainnya trus dibimbing siapa? Dosen mesin?
Ok, saya cukup emosi dan tidak peduli urusan dosen pembimbing. Siapa pun yang penting siap. Walau dalam hati agak jengkel juga. Saya benar2 merasa exhausted banget waktu itu. Tapi perasaan saya berkata, kita lihat saja besok. Dan jeng... jeng... Keesokan harinya, saya yang sudah menyerah, memilih untuk menemui salah satu dosen yang mengajar saya waktu tingkat 2, namun tidak pernah ketemu waktu itu. Dan pada saat itu juga, saya bertemu dosen yang sangat berkompeten dalam bidang yang akan saya ambil untuk Tugas Asolole ini. Beliau serta merta menanyai siapa yang belum dapat dosen pembimbing. Saya pun secara otomatis ditawari waktu itu, tentu saja saya tidak menolak. Alhamdulillah.... :-D Bahagia banget rasanya, tanpa mencari2 dosen yang kuinginkan malah datang kepada saya. Terharu....
Saya baru tahu ternyata pada hari itu, kuota untuk dosen pembimbing ditambah menjadi 6 mahasiswa tergantung dosennya. Langsung saja saya juga mencarikan dosen pembimbing untuk "dia" :-P Kebetulan "dia" juga belum dapat dosen. Dan pada saat itu saya sedang free tidak ada kuliah. Dan Alhamdulillah, "dia" juga dapat dosen yang berkompeten juga. Ughhh... Semakin terharu... :'-)
Rasa exhausted yang tadinya saya rasakan berubah menjadi rasa lega. Walaupun saya belum 100% lega karena proposal saya belum selesai dan saya juga belum mengikuti ujian judul yang akan dilaksanakan tgl 17 Oktober nanti. Doakan saya... T.T
Semoga teman2 yang lain yang belum mendapatkan dosen diberikan kelancaran juga. Dan yang sudah tetap semangat mengerjakan proposal. Semoga sukses semua, amin... Fighting!!! :-D

Masih 3 minggu menjalani perkuliahan seperti biasa, sudah dibikin shock sama jurusan bangke... Sebel dech... Saya kan jadi gedebak gedebuk bingung kan. Duh, jurusan saya yang satu ini bener2 suka bikin mahasiswanya kejang2, sakit jantung, akhirnya kena komplikasi, #Naudzubillah...
Baru juga hari Rabu kemarin sosialisasi, eh... nggak taunya jurusan nentuin seenak udelnya kalo proposal TA dikumpulin paling lambat tgl 12 Oktober 2011, Woiii,,, plis pak, bu! Saya tahu anda ingin cepat2 melihat kami pergi dari kampus ini. Tapi, tolong jangan siksa kami begini donk. Arggghhhh... Apa2an coba? Jurusan lain itu masih 7 minggu lagi terhitung mulai minggu depan. Itu jurusan mesin lho, jurusan elektro juga gitu, masih lama... Lah ini?? Pak, Bu... kita juga harus mikir ke depannya juga. Gimana ntar ngambil datanya, kira2 cocok nggak judul sama tempat PKL. Ya Allah, kepala saya rasanya seperti dipukul pake meja.
Tahu gini kan, liburan kemarin saya nggak ongkang2 kaki gitu. Jadi banyak beban kalo kayak gini. Kemarin saya melihat 106 judul TA yang sekiranya cocok bagi saya. Tapi nyatanya yang tergambar di benak saya hanya 16 biji. Itu pun gambarannya masih asal banget.
Yah, mohon doanya aja deh... Ngurusin TA (Tugas Asolole) kali ini... Moga lancar deh, amin... Fighting!!!

Dari judulnya udah keliatan mengandung sesuatu yang angker... Hiihh... Serem...

Bajul itu artinya Buaya... Kalo Mati yaa... Nggak hidup. Jadi buaya yang udah wasalam. Tapi kok bisa, nama seangker itu menjadi tempat favorit saya? -.-a

Eits... Tunggu dulu, ni Bajul Mati bukan sembarang Bajul. Hehe... yang jelas ini nama pantai yang luar biasa indaaaahhh... Baguss banget dah pokoknya... Pantai ini terletak di kawasan Sumbermanjing, Kabupaten Malang. Kalo nggak salah lho. Pantai ini masih bersih dari sampah wisatawan yang berkunjung. Ombaknya pun bisa dikatakan cukup besar. Hamparan pasir pantai membentang luas dan panjang. Apalagi kalo sunset, Wuidiihhh... berasa berada di pantai Kuta Bali. Kayak saya pernah kesana aja... Hehe... Tapi emang pernah sih sekali. Itupun cuman duduk2 liat bule seliweran.

Pantai ini merupakan pantai yang ingin saya kunjungi pertama kali di Malang. Padahal di Malang kan yang paling terkenal paling yaa... Balekambang, Sendang biru, Ngliyep, dll. Tapi sayangnya wisatawan kurang memperhatikan kebersihan lingkungan. Jadi ketertarikan saya jadi berkurang. Saya baca tentang deskripsi pantai ini di suatu blog, saya lupa blog siapa. Yang pertama jelas karena pantainya yang masih bersih, kemudian jembatan megah yang berdiri kokoh di sebelahnya, satu lagi yang bikin saya interest, yaitu namanya yang sangaaarrr.... :-D

Untuk menuju pantai ini, seperti biasa saya kurang tahu jalannya. Hehe... Maklum saya dibonceng. Tapi, kalau sudah keluar kota Malang, saya mulai menghapalnya sedikit2. Jalan menuju ke Bajul Mati sama dengan jalan menuju ke Sendang Biru. Cuman pas ntar sampe di pertigaan, nggak tahu pertigaan apaan. Bajul Mati itu belok ke kanan. Ntar juga ada arahnya... :-P Trus tinggal ikuti deh jalan itu, sekali lagi saya kurang begitu tahu jalannya kalo disuruh kesana sekali lagi. Tapi, kalau ada yang mau ajak, AYO WESS :-D

Pada kesempatan sekitar 3-4 bulan yang lalu, saya berhasil mewujudkan impian saya mencapai pantai tersebut. Pada awalnya, tujuan perjalanan saya ini di Pantai Goa Cina. Pantainya sih juga bagus. Namun sayangnya, banyak Doggy alias anjing. Saya pun jadi kurang berminat begitu melihat makhluk tersebut seliweran di depan saya. Saya sih tidak takut, cuman risih aja. Iya kalo anjing lucu yang berbulu banyak gitu, lha ini anjing tanpa bulu mirip banget yang ada di Bali. Wadaah... saya risih. Mana tidak sedikit ditemui bekas luka di badan anjing2 tersebut lagi. -.-"

Karena kurang puas saya dan teman2 saya melanjutkan perjalanan ke BAJUL MATI... YEAAHHH... ini yang saya tunggu2... :-D
Ternyuaaataa... jalan menuju Bajul Mati muluusss... Lancar Jaya sampai bibir pantai. GILAA... Biasanya pantai di Malang kebanyakan harus melewati jalan makadam geronjal2 yang bikin kepala saya pusing 8 keliling. Ada yang jauhnya cuman 500 meter bahkan ada yang 3 kilometer. Buseet dah, kayak yang di Kondang Merak tuh. Tapi ini... Amazing! Sampai bibir pantai ASPAL bro... :-D

Sampai di Bajul Mati saya mengeluarkan gocek sebesar Rp 8.000 saja untuk satu sepeda motor roda 2. Katanya kalo hari biasa hanya sebesar Rp 5.000. Saya benar2 kegirangan sesampainya disana. Mata saya takjub melihat hamparan pasir yang luas. Wuaahhhh.... saya pengen terjuunnn ke laut. Tapi ombaknya besar. Kebetulan saya sampai di Bajul Mati juga udah sore, sehingga nunggu sekitar 1 jam udah sunset tuh. Wah, bener2 indah... Ini foto saya ketika berada disana. Serasa dimana gitu... Asek banget.. >,<


Saya kecil ya... Nggak keliatan lagi... :-P
Ya sudah, biarlahhh... :-D

Ketakjuban saya tak cukup sampai situ. Berjalan sedikit ke arah timur kalo nggak salah, hehee :-P Saya menemukan sebuah teluk yang cukup asri dan sejuk. Saya berjalan bersama teman saya kesana. Dan Olalala, jika anda mempunyai penyakit yang dinamakan STRESS, silakan di obati disini. Suara air yang berayun2 itu benar2 membuat jiwa saya tenang dan damai. Hati saya benar2 tenang, pikiran dan hati saya sungguh menikmati suasana itu. Saya jadi ingin berada disana lebih lama, itulah yang ada di pikiran saya. Tapi apa boleh buat, teriakan teman2 yang pengen pulang mengurungkan niat saya.


Ni jalan menuju TKP gan, ada hamparan tanaman enceng gondok...


Ni kondisi airnya... Udah keliatan kan gimana tenang dan asrinya :-D


Mejeng dulu bentar, sambil nyuci kaki. Ternyata seger juga...

Ahha, yang jelas saya pengen kesana lagi. Buat yang udah kesana, pengen kesana, belum kesana, mau kesana tapi nggak sempet2, atau nggak ada niatan buat kesana. Ayo, ke Bajul Mati. Dijamin ciamiiikkkk... :-D Tapi tetep ingat, jaga kelestarian dan kebersihan pantai tersebut. Karena yang menikmati pantai tersebut tidak hanya kita, tapi mungkin anak cucu kita nanti suatu saat. :-)